Posts

Showing posts with the label Puisi

Tawas dan Pawang Lidah

Apa yang kau tahu? Menamai Nama, memprakarsai atas deskripsi indra; pun pastikah indra semurni nurani? Apa yang kau pahami? Hasil menelisik, mengusik ... Lantas memberisiki sunyi. Serupa perang dan 'ku enggan menyerbu. Meski berkecak pinggang menantang, sebisanya kau kuusir pulang; sebelum parang-parang kita berciuman. Apa yang kau petik, Atas sikap yang kutunjukkan?  Demi damai ini kutitipkan cenderamata : tawas dan pawang lidah untuk pikir dan ucapmu. Kawan.

Cermin-cermin

Cermin,  kubecermin pada wajahmu, wajahnya, wajah mereka  Tidak, kita tak serupa  Cermin, kembali kubecermin  Pada wajah bumi, wajah langit, wajah angin, wajah air, wajah api  Hanya terpantul bayang hitam, bayang bening-bergoyang, bayang besar-memanjang  Cermin, cerminku berganti-ganti  yang kutemui bayang duduk aku berdiri, bayang diam aku menari  Cermin, lantas kubecermin pada kitab suci  mungkin bukan bagian dari cermin-cermin lalu  ciptaan sepertiku cuma satu  laksana Adam dibentuk dari tanah  Lantas ragaku dari nanah?  Menilik surga-neraka mencibir  Dari segenap semesta aku terusir  Cermin, cerminku hati  :Tuhan berbisik  Oh, masihkah kumiliki?  Lalu Setan menghadiahi belati  :aku bergidik  Belati untuk membelah hati!  Agar raga mati  kubecermin pada belati dan aku adalah mati  Serupa kami, membingkai bumi 

Lembah Seribu Bintang

Apakah aku melupakannya, hal terindah itu? Di saat pintu dan jendela mengatup dalam pekat malam yang tak bersenda gurau  dan mengejek dengan guyur Mungkin aku lupa dengan mawar merah plastik yang telah kaugantikan dengan bintang gabus  yang bercahaya pendar dalam kamar ini dan lembah seribu bintang yang bukan lagi milik kita Apakah aku melupakan itu Hal yang tak kupandang indah lagi Mengapa lembah seribu bintang itu bukan lagi milik kita? Pendaun, 13 Juni 2011, pukul 18:47 (Terinspirasi dari novel KANGEN karya VE HANDOJO)

Hanya Sebuah Harap

Seuntai harapan dalam jenuh yang menguasa Tiada yang lebih terang daripadanya Risau dalam keribaan tiada banding Mencekam kelam tak bernada Separuh napas berontak menyeruak Namun tiada daya karena kekang Melawan semakin terhimpit Mengeluh, apa guna? Adakah sebuah jawab yang kian dekat? Kapankah rintih terdengar? Pilu hati, berputus asa Bekal hidup hanyalah sebuah harap yang bersemi  Ketapang, 9 Desember 2010

Dunia dalam Ponsel

Kecil sudah Tapi tangan tak sampai memeluk Seakan-akan pandang tembus Namun rahasia tak tersingkap Begitu luar biasa, 'ku ternganga Begitu menggoda, 'ku tergoda Begitu bertabur euforia, 'ku bahagia Duka lara entah di mana Ah, tak itu pula! Picik-picik merayap Inisiatif memuncak Menjaja wajah Suara hati kabur kelabu Kecil sudah Tapi tangan jauh meraih Ah, kecilnya aku...